Search This Blog

Saturday, October 16, 2010

Kenapa orang Jepang tidak banyak menjadi anggota FaceBook ?

Kenapa orang Jepang tidak banyak menjadi anggota FaceBook??

Ditulis oleh Sajadah Sukses di/pada Minggu, Februari 7, 2010



Beberapa kali saya pernah mengirimkan invitation ke teman mahasiswa Jepang untuk ikut bergabung di FaceBook (FB). Tapi undangan saya tersebut sangat jarang ditanggapi oleh teman saya. Ada satu dua orang yang menjadi anggota, tapi itupun tidak aktif. Hanya sekedar membuka account saja. Yang lumayan aktif biasanya hanya mahasiswa Jepang yang mempunyai banyak teman mahasiswa asing.

Tahun 2008 Mark Zuckerberg membuat aplikasi bahasa Jepang untuk menarik lebih banyak peminat FB dari negeri sakura. Ternyata harapan itu tidak terpenuhi. Memang sebagian besar warga Jepang sangat tidak terbiasa dengan aplikasi berbahasa Inggris. Tetapi ketika YouTube membuat aplikasi berbahasa Jepang, berbondong-bondong orang Jepang mengupload video ke sana. YouTube relativ lebih disenangi dibandingkan dengan FB. Ternyata bahasa bukan kendali utama bagi menjamurnya FB di Jepang.

Untuk menjadi anggota FB, kita diharuskan mengisi data-data pribadi yang nantinya dicantumkan kepada orang yang menjadi teman kita. Sementara YouTube cuma mensyaratkan nama (itupun tidak perlu nama asli) dan alamat email . Di sinilah masalahnya. Sebagian besar orang Jepang tidak mau memperlihatkan data dan kehidupan pribadinya kepada banyak orang. Sebagai contoh, dengan memperlihatkan tanggal, bulan dan kelahiran kita, dipercaya dapat digunakan untuk mengetahui karakter kita yang sangat berbahaya apabila digunakan untuk kepentingan tidak baik.

Selain itu, orang Jepang juga tidak terlalu suka menonjolkan jati dirinya di hadapan orang banyak. Mereka terbiasa hidup berkelompok dan bekerja juga dalam kelompok. Kita mungkin kenal dengan produk walkman, tapi kita tidak tahu siapa penemunya, kecuali dari Sony Corpporation. Juga tamagochi yang terkenal itu, oleh perusahannya, sang penemu mendapat perlakuan sama dengan pegawai lainnya dan dianggap sebagai bagian dari kerja kelompok.

Dalam berinternetpun, orang Jepang lebih suka memakai identitas lain atau bukan nama sebenarnya. Tahun 2005 ada satu kisah nyata tentang warga Jepang yang bercurhat dalam suatu forum Internet. Pemuda Jepang tersebut adalah orang yang suka dengan komik (manga), game, animasi dan bergaya agak aneh. Di Jepang orang seperti ini disebut “otaku”. Dalam suatu perjalanan di kereta api, dia berhasil menolong seorang wanita cantik berpendidikan tinggi dari gangguan orang mabuk. Keinginannya untuk mendekati dan mencintai wanita tersebut dicurahkan dalam sebuah forum Internet. Dalam setiap langkah untuk mendekati sang wanita, dia menceritakannya di forum tersebut. Banyak sekali tanggapan, saran dan dukungan kepada pemuda tersebut. Kisah ini akhirnya menjadi populer dan dijadikan sebuah film, sinetron dan komik dengan judul “Densha Otoko” (Train Man). Sampai sekarang, identitas asli Train Main ini tidak diketahui.



Selain itu, ada juga rasa mawas diri dari orang Jepang untuk tidak membagi identitas, foto dan kehidupan pribadinya. Terutama para wanitanya. Mereka tidak mau diganggu oleh orang-orang iseng yang mengetahui identitas mereka melalui FB. Pernah juga ada kasus ketika seorang mahasiswi yang punya blog didatangi oleh pemuda Amerika yang ingin berkenalan dengannya. Sang mahasiswi menolak dan sempat terjadi kehebohan di kampus. Sejak saat itu ada himbauan di kampus untuk tidak membuka kehidupan pribadi melalui blog. Demikian cerita salah satu professor saya.

Jadi budaya masih banyak mempengaruhi orang Jepang untuk tidak sembarangan berinternet. Sementara di Indonesia banyak yang dengan secara sengaja membagi-bagikan nomor HP, alamat, nomor PIN BlackBerry dan identitas lainnya di FB mereka. Tanpa disadari, kalau ada orang yang berniat tidak baik, data-data ini bisa dengan sangat mudah dimanfaatkan untuk kejahatan.

Sumber : http://kask.us/3312769 Baca selengkapnya Boku no Kokoro

Friday, October 15, 2010

110 Terima Kasih Pak Polisi

....Pa, pa2, ada suara aneh tuh di luar. kayak suara Babi. kayak suara Beruang...

....(dengan terkantuk-kantuk), suara Babi ?, Beruang ? masak sih ma...., kita kan bukan di Hutan, lagian area rumah kita kan dilalui banyak orang, mana mungkin ada Babi ato beruang ?.... sambil melanjutkan tidur yang tertunda.

(beberapa detik kemudian)....

Pa, pa2, dengerin itu, kayak suara orang meludah...(dengan ekspresi penuh takut).... seketika rasa kantuk mulai hilang. dan teringat beberapa kali saya sering mengabaikan peringatan istri dan berakibat fatal. dan mendengarkan dengan seksama suara aneh di beranda belakang rumah. dan dari balik gorden kamar, samar-samar terlihat bayangan manusia. kali ini saya bangkit dari tidur, dan melihat jam menunjukkan pukul 12.15. (sudah pagi)

...hmmm ada yang cari gara-gara nih... saya intip dari jarak dekat dan mengamati siapa gerangan yang berniat usil tengah malam begini.

dan saya melihat sosok pria umur 50-an, terhuyung-huyung, sempoyongan. saya berfikir, orang mabuk.... tapi kenapa beranda rumah saya yang jadi sasaran...? dan gedebuk........ suara pria itu terjatuh ke lantai. sambail meringis dia berusaha bangkit sambil meraba-raba kepalanya yang mungkin terbentur semen.



itulah gambaran singkat sebuah kejadian kecil yang saya alami tadi malam (15 Oktober 2010) di Tohoku University`s House. selanjutnya saya dan berfikir bagaimana mengatasi sipemabuk ini. lagi pula saya harus buru-buru, mengingat jam 1.30 saya harus berangkat mengerjakan tugas harian. saya berfikir, sipemabuk hanya sendirian. seandainya dia nekat masuk rumah dengan merusak jendela, saya masih sanggup mengatasinya. tapi ini bukan Indonesia. tidak bisa gegabah. saya harus ekstra hati-hati. saya harus cari satpam. tapi istri ketakutan, dan saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian. apalagi Ghaniy sedang tidur pulas. saya juga tidak mungkin ajak Istri, karena Ghaniy akan sendirian dan akan lebih berbahaya bila sipemabuk benar2 nekat.

setelah mengamati beberapa saat, sipemabuk benar2 dalam keadaan fly, dan tidak memiliki senjata. akhirnya saya berhasil menyakinkan istri bahwa untuk sementara saya panggil satpam, rumah akan aman.



saya keliling komplek perumahan, melintasi berberapa gedung. tapi tidak menemukan satpam. belakangan saya tahu kalau satpam berada dalam ruangannya, dan bila ada keperluan mendadak, harus call melalui call center, atau tekan tombol interphone yang ada di lobi sebuah gedung di mana satpam berkantor.



akhirnya saya kembali pulang sambil memikirkan upaya lain. waktu semakin sedikit. saya menyalakan laptop dan buka internet untuk mencari nomor telp KOUBAN (pos polisi) terdekat. berhasil...

saya langsung menghubungi. saya sampaikan keluhan saya, dan pak Polisi menanggapi dengan seksama. tetapi berhubung patroli sedang tidak ditempat, ditambah lagi ada kasus terdahulu yang harus ditangani, Polisi menyarankan kepada saya agar untuk beberapa saat mengamati dulu gerakan sipemabuk. bila tidak mengganggu secara langsung, biarkan saja. kali dia stress, ato habis minum-minum selepas kantor, katanya. tetapi bila tingkah lakunya semakin menjadi-jadi, segera telp ke 110, patroli yang berada di jalan akan segera mendatangi lokasi Anda, kata polisi berusaha menenangkan saya. lalu telepon saya tutup.



hm.....saya tidak sabaran lagi, mengingat sipemabuk malah semakin menjadi-jadi. walau tidak menggedor-gedor pintu, tetapi berkali-kali dia sempoyongan ke arah jendela. istri semakin ketakutan. akhirnya saya langsung mengambil tindakan dengan menghubungi polisi patroli 110.

saya kembali menceritakan gambaran apa yang sedang saya alami. polisi segera merespon dengan cepat. baik, sekarang beritahu alamat anda. dalam beebrapa menit patroli akan segera datang.



hanya dalam waktu 5 menit, terlihat lampu senter menyala menyoroti sipemabuk. Polisi datang. saya mendekat ke jendela, mendengarkan percakapan mereka.

Polisi : konban wa. dou shimashitaka ?

sipemabuk : (dengan masih sempoyongan)...... tidak menjawab.

Polisi : dou shimashita ka ?

Sipemabuk : (berusaha menjawab).... tapi tidak satu katapun yang keluar dari mulutnya.

Polisi : osumai wa doshira desu ka ? karena berkali-kali ditanya dan tidak menjawab, polisi kembali mengajukan pertanyaan.

anata wa nihonjin desu ka ? sipemabuk juga tidak menjawab. polisi meneruskan pertanyaan :

kuni wa dochira desu ka ? chuugoku desu ka ? indonesia desu ka ?

kali ini Sipemabuk menjawab

kankoku desu. watashi wa.... watashi no ie wa.....

ternyata dia orang Korea dan tidak bisa berbahasa Jepang.

sejurus kemudian, Polisi melihat ada yang aneh dari diri sipemabuk. ternyata mukanya penuh dengan darah.....

Polisi : anata wa doushimashita ka. kenka wo shimashita ka ? naguriai wo shimashita ka ?

Tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya dijawab : watashi wa.... watashi no ie wa.... saja oleh sipemabuk.

mendengar dialog tersebut, saya juga baru tersadar, ternyata dilantai beranda banyak darah. bahkan sampai ke jendela kaca.



beberapa lama interogasi, dan melihat kondisi sipemabuk, kahirnya polisi memutuskan untuk memanggil anbulance. dan berniat mengirim sipemabuk ke RS. tetapi saat itulah ada suara memanggil-manggil. ternyata itu adalah suara istri dari sipemabuk. ternyata rumahnya di lantai dua satu rumah dari rumah yang saya tempati.



akhirnya, menjelang keberangkatan saya, polisi sudah berhasil mengatasi sipemabuk, dan sudah mendatangkan anbulance. selanjutnya Polisi mengahmpiri saya, dan menceritakan bahwa suami-istri tidak bisa bahasa Jepang. saya bingung katanya. tetapi mengingat kondisi sipemabuk yang berlumuran darah, saya pikir harus dikirim ke RS aja, katanya.



saya meninggalkan Polisi yang masih mengurusi sipemabuk. dan tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuannya.



disepanjang perjalanan, saya terus mengucapkan rasa syukur. dan memuji reaksi cepat yang diambil oleh Polisi, meskipun yang memberikan laporan adalah orang asing. tentu saja, no money alias free, okane kakarimasen.

Inilah Jepang, sangat mengutamakan rasa aman bagi rakyatnya.



pagi harinya, Satpam mendatangi rumah saya, dan mengucapkan permintaan maaf atas kejadian tadi malam, sekaligus mengucapkan terima kasih dan memberikan pujian atas langkah cepat yang saya ambil dengan menghubungi polisi 110. satpam menjelaskan bahwa mereka siaga 24 jam, tetapi tidak di luar,melainkan di dalam ruangan....



Namun, saya tidak diberitahu, apa yang sebenarnya terjadi. mungkin itu bukan bagian tugas Satpam....

Terima kasih Pak Polisi, salut atas pengabdian Anda. Andai Polisi Indonesia juga seperti ini........ Baca selengkapnya Boku no Kokoro

Sunday, September 19, 2010

Benarkah Orang Jepang Tidak Beragama ? (日本人は本当に無宗教なのか?)

13 Juli 2010 lalu saya diberi kesempatan untuk ikut lomba pidato bahasa Jepang untuk orang asing di Sendai. lomba pidato ini diselenggarakan oleh Sendai International Relations Association (SIRA) bertajuk Sendai World Fiesta 2010. lomba pidato bahasa Jepang hanyalah salah satu acara dari sekian banyak acara yang setiap tahun rutin diselenggarakan. berikut adalah naskah lomba pidato yang saya bawakan dengan Judul : Benarkah Orang Jepang tidak Beragama ?

               日本人は本当に無宗教なのか ?

インドネシア人同士が知り合ったとき必ずといってもいいほど聞かれることがあります。それは「あなたの宗教はなんですか。」という質問です。インドネシア人にとってこれは当たり前のことです。なぜなら、インドネシア人にとって宗教は人生の手引きであり、アイデンティティだからです。宗教は生きている上でなくてはならないものの一つだと言っても過言ではありません。それに、インドネシアでは法律に定められているので、みんな宗教を持たないといけません。宗教を持たない人は国民として認められません。ですから、インドネシアではどこに行ってもモスクや教会が多く見られます。
日本にも全国いたるところに、神社やお寺があります。村や町や大都会のビルの谷間にも、山々の頂上にも、森の中、川や海のそばにも見られます。年中行事や人生儀礼を見ると、日本各地に大小さまざまないわゆる宗教的な行事が行われます。日本ほど多彩な行事を持つ国は、他になかなか見当たらないといえるでしょう。日本に来るまで「先進国の人々は宗教なんか興味はない。」と思っていた当時の私の考えとは違っていました。宗教に対して日本人はインドネシア人と同じであると思っていました。しかし、現実は、そうではありませんでした。
多くの日本人は自分が無宗教で、宗教を信じていない、と考えています。私はこれを初めて知ったとき腰を抜かすほど驚きました。なぜなら、私から見ると、宗教的なことに関しては日本人がしていることとインドネシア人がしていることとは全く同じだからです。例えば、正月には、年神様を迎え、多くの人は初詣に行って、一年の無事と平安を祈ります。お盆には、多くの人は実家に帰り、祖先の墓参りをして過ごします。祖先の霊があの世から帰ってきて、家族と共にひとときを過ごし、再びあの世に帰っていくという日本古来の信仰と仏教が結びついてできた行事だそうです。
以上は、日本人が行う宗教的な最大な行事の一部ですが、それとは別に人生儀礼があります。儀礼は妊婦さんが妊娠5ヶ月目に入ってから始まります。赤ちゃんが生まれてから1カ月ぐらい後に、「初宮参り」をします。少し大きくなったら、七五三参りをして子供の成長を祝います。20歳になったら、神社にお参りをして、神様に自分の成長を感謝します。そして人の人生にもっとも大切な出来事の一つは結婚です。神様の前で、苦楽を共にして明るく楽しい家庭を築き、子孫の繁栄をはかることを誓い合います。最後に葬式です。葬式は死者をあの世に送る儀式で、死者を弔うための葬儀と個人とお別れする告別式です。
このような現象を見たら、私も含めて多くの外国人は「日本は先進国だけど、日本人は宗教に関心を持っている」と思うでしょう。日本のことがあまり知らない外国人に「日本の宗教は何ですか。」と聞いてみても、「無宗教です。」という答えはまずないと思います。おそらく、「神道です。」とか、「仏教です。」とかでしょう。日本人は無宗教だという事実を聞いてもどうしても納得できないところがあります。
しかし、しばらく調べたら、私と日本人では宗教と聞いて考えることは少し違うことが分かりました。外国人からすれば、日本人は宗教的なことを多く行っているように見えますが、日本人からすれば、それは単なる当たり前のことに過ぎません。日本人には「これは宗教だ。」というよりも、むしろ「祖先から受け継がれた習慣だ。」というのが適切かもしれません。しかし、国際化の進む現在では日本に来たことがない外国人にも一言で分かるように自分の国の宗教を説明する特別な定義が日本人には必要ではないかと思います。
スピーチは以上です。ご静聴ありがとうございました。
Baca selengkapnya Boku no Kokoro

Pondok Bersalin (産屋/ubuya)

Mei 2010 lalu, saya berangkat ke Oguni machi, prefectur Yamagata bersama mahasiswa pasca sarjana (M1) Univ. Tohoku. kami ditemani oleh seorang senior dan seorang asosiate Professor, Yamada sensei . keberangkatan kami bertujuan untuk melakukan persiapan menjelang field work September tahun yang sama.
selain itu, keunjungan kali ini juga untuk mendapatkan data tentang Ubuya yang masih ada di Oguni.


Ubuya atau Sangoya adalah bangunan kecil (pondok) yang digunakan sebagai tempat bersalin, tempat tinggal selama masa menstruasi bagi wanita pada masa lalu.
Saat ini, melahirkan di rumah sakit adalah hal yang lumrah. tetapi tidak demikian bagi wanita dahulu (hingga 1950-an). wanita melahirkan di rumah masing-masing.
Ubuya yang selanjutnya disebut koya dapat ditemukan di setiap daerah, lebih banyak ditemukan di daerah pantai, perbatasan perkampungan, dan di samping jinja. koya merupakan bangunan sederhana, tidak memiliki jendela.
ada beberapa alasan dibangunnya koya, diantaranya adalah adanya pemikiran bahwa persalinan adalah najis (fujo), sehingga persalinan harus dilakukan di luar areal tempat tinggal agar najis (fujo) tersebut tidak menular ke ie atau keluarga. alasan lain adalah adanya kepercayaan bahwa roh bayi berasal dari dunia lain (luar), sehingga koya dibangun di luar areal tempat tinggal, perbatasan perkampungan sebagai lokasi untuk menyambut datangnya roh bayi tersebut.
Dahulu persentasi kematian bayi baru lahir sangat tinggi. alasannya tidak diketahui. tetapi masyarakat mempercayai adanya mono no ke (roh jahat) yang mengambil roh bayi yang baru lahir. untuk melindungi wanita bersalin disembunyikan dalam koya yang dibangun jauh dari areal tempat tinggal, melewati jembatan, atau di samping jinja.

biasanya selama masa persalinan (lebih kurang 7 hari) wanita tidak dibolehkan keluar koya, segala urusan akan dilakukan oleh penduduk wanita secara bergantian. misalnya untuk urusan makanan, penduduk secara bergantian akan mengantarkan makanan ke koya. sedangkan untuk mengurusi bayi yang baru lahir biasanya sang ibu akan ditemani oleh ibu kandungnya selama berada di koya.
selain itu, pakaian yang dicuci juga tidak boleh dijemur di luar koya. setelah 7 hari, wanita yang telah melakukan persalinan baru dibolehkan pulang kembali ke rumah, pagi hari sebelum matahari keluar. hal ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa bila pulang setelah matahari ke luar, akan menimbulkan kegare (najis).
Baca selengkapnya Boku no Kokoro