Kenapa orang Jepang tidak banyak menjadi anggota FaceBook??
Ditulis oleh Sajadah Sukses di/pada Minggu, Februari 7, 2010
Beberapa kali saya pernah mengirimkan invitation ke teman mahasiswa Jepang untuk ikut bergabung di FaceBook (FB). Tapi undangan saya tersebut sangat jarang ditanggapi oleh teman saya. Ada satu dua orang yang menjadi anggota, tapi itupun tidak aktif. Hanya sekedar membuka account saja. Yang lumayan aktif biasanya hanya mahasiswa Jepang yang mempunyai banyak teman mahasiswa asing.
Tahun 2008 Mark Zuckerberg membuat aplikasi bahasa Jepang untuk menarik lebih banyak peminat FB dari negeri sakura. Ternyata harapan itu tidak terpenuhi. Memang sebagian besar warga Jepang sangat tidak terbiasa dengan aplikasi berbahasa Inggris. Tetapi ketika YouTube membuat aplikasi berbahasa Jepang, berbondong-bondong orang Jepang mengupload video ke sana. YouTube relativ lebih disenangi dibandingkan dengan FB. Ternyata bahasa bukan kendali utama bagi menjamurnya FB di Jepang.
Untuk menjadi anggota FB, kita diharuskan mengisi data-data pribadi yang nantinya dicantumkan kepada orang yang menjadi teman kita. Sementara YouTube cuma mensyaratkan nama (itupun tidak perlu nama asli) dan alamat email . Di sinilah masalahnya. Sebagian besar orang Jepang tidak mau memperlihatkan data dan kehidupan pribadinya kepada banyak orang. Sebagai contoh, dengan memperlihatkan tanggal, bulan dan kelahiran kita, dipercaya dapat digunakan untuk mengetahui karakter kita yang sangat berbahaya apabila digunakan untuk kepentingan tidak baik.
Selain itu, orang Jepang juga tidak terlalu suka menonjolkan jati dirinya di hadapan orang banyak. Mereka terbiasa hidup berkelompok dan bekerja juga dalam kelompok. Kita mungkin kenal dengan produk walkman, tapi kita tidak tahu siapa penemunya, kecuali dari Sony Corpporation. Juga tamagochi yang terkenal itu, oleh perusahannya, sang penemu mendapat perlakuan sama dengan pegawai lainnya dan dianggap sebagai bagian dari kerja kelompok.
Dalam berinternetpun, orang Jepang lebih suka memakai identitas lain atau bukan nama sebenarnya. Tahun 2005 ada satu kisah nyata tentang warga Jepang yang bercurhat dalam suatu forum Internet. Pemuda Jepang tersebut adalah orang yang suka dengan komik (manga), game, animasi dan bergaya agak aneh. Di Jepang orang seperti ini disebut “otaku”. Dalam suatu perjalanan di kereta api, dia berhasil menolong seorang wanita cantik berpendidikan tinggi dari gangguan orang mabuk. Keinginannya untuk mendekati dan mencintai wanita tersebut dicurahkan dalam sebuah forum Internet. Dalam setiap langkah untuk mendekati sang wanita, dia menceritakannya di forum tersebut. Banyak sekali tanggapan, saran dan dukungan kepada pemuda tersebut. Kisah ini akhirnya menjadi populer dan dijadikan sebuah film, sinetron dan komik dengan judul “Densha Otoko” (Train Man). Sampai sekarang, identitas asli Train Main ini tidak diketahui.
Selain itu, ada juga rasa mawas diri dari orang Jepang untuk tidak membagi identitas, foto dan kehidupan pribadinya. Terutama para wanitanya. Mereka tidak mau diganggu oleh orang-orang iseng yang mengetahui identitas mereka melalui FB. Pernah juga ada kasus ketika seorang mahasiswi yang punya blog didatangi oleh pemuda Amerika yang ingin berkenalan dengannya. Sang mahasiswi menolak dan sempat terjadi kehebohan di kampus. Sejak saat itu ada himbauan di kampus untuk tidak membuka kehidupan pribadi melalui blog. Demikian cerita salah satu professor saya.
Jadi budaya masih banyak mempengaruhi orang Jepang untuk tidak sembarangan berinternet. Sementara di Indonesia banyak yang dengan secara sengaja membagi-bagikan nomor HP, alamat, nomor PIN BlackBerry dan identitas lainnya di FB mereka. Tanpa disadari, kalau ada orang yang berniat tidak baik, data-data ini bisa dengan sangat mudah dimanfaatkan untuk kejahatan.
Sumber : http://kask.us/3312769
Baca selengkapnya Boku no Kokoro: October 2010
Blog ini bukan untuk gaya-gayaan, tapi semata-mata sebagai media pembelajaran banyak hal.
Search This Blog
Saturday, October 16, 2010
Friday, October 15, 2010
110 Terima Kasih Pak Polisi
....Pa, pa2, ada suara aneh tuh di luar. kayak suara Babi. kayak suara Beruang...
....(dengan terkantuk-kantuk), suara Babi ?, Beruang ? masak sih ma...., kita kan bukan di Hutan, lagian area rumah kita kan dilalui banyak orang, mana mungkin ada Babi ato beruang ?.... sambil melanjutkan tidur yang tertunda.
(beberapa detik kemudian)....
Pa, pa2, dengerin itu, kayak suara orang meludah...(dengan ekspresi penuh takut).... seketika rasa kantuk mulai hilang. dan teringat beberapa kali saya sering mengabaikan peringatan istri dan berakibat fatal. dan mendengarkan dengan seksama suara aneh di beranda belakang rumah. dan dari balik gorden kamar, samar-samar terlihat bayangan manusia. kali ini saya bangkit dari tidur, dan melihat jam menunjukkan pukul 12.15. (sudah pagi)
...hmmm ada yang cari gara-gara nih... saya intip dari jarak dekat dan mengamati siapa gerangan yang berniat usil tengah malam begini.
dan saya melihat sosok pria umur 50-an, terhuyung-huyung, sempoyongan. saya berfikir, orang mabuk.... tapi kenapa beranda rumah saya yang jadi sasaran...? dan gedebuk........ suara pria itu terjatuh ke lantai. sambail meringis dia berusaha bangkit sambil meraba-raba kepalanya yang mungkin terbentur semen.
itulah gambaran singkat sebuah kejadian kecil yang saya alami tadi malam (15 Oktober 2010) di Tohoku University`s House. selanjutnya saya dan berfikir bagaimana mengatasi sipemabuk ini. lagi pula saya harus buru-buru, mengingat jam 1.30 saya harus berangkat mengerjakan tugas harian. saya berfikir, sipemabuk hanya sendirian. seandainya dia nekat masuk rumah dengan merusak jendela, saya masih sanggup mengatasinya. tapi ini bukan Indonesia. tidak bisa gegabah. saya harus ekstra hati-hati. saya harus cari satpam. tapi istri ketakutan, dan saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian. apalagi Ghaniy sedang tidur pulas. saya juga tidak mungkin ajak Istri, karena Ghaniy akan sendirian dan akan lebih berbahaya bila sipemabuk benar2 nekat.
setelah mengamati beberapa saat, sipemabuk benar2 dalam keadaan fly, dan tidak memiliki senjata. akhirnya saya berhasil menyakinkan istri bahwa untuk sementara saya panggil satpam, rumah akan aman.
saya keliling komplek perumahan, melintasi berberapa gedung. tapi tidak menemukan satpam. belakangan saya tahu kalau satpam berada dalam ruangannya, dan bila ada keperluan mendadak, harus call melalui call center, atau tekan tombol interphone yang ada di lobi sebuah gedung di mana satpam berkantor.
akhirnya saya kembali pulang sambil memikirkan upaya lain. waktu semakin sedikit. saya menyalakan laptop dan buka internet untuk mencari nomor telp KOUBAN (pos polisi) terdekat. berhasil...
saya langsung menghubungi. saya sampaikan keluhan saya, dan pak Polisi menanggapi dengan seksama. tetapi berhubung patroli sedang tidak ditempat, ditambah lagi ada kasus terdahulu yang harus ditangani, Polisi menyarankan kepada saya agar untuk beberapa saat mengamati dulu gerakan sipemabuk. bila tidak mengganggu secara langsung, biarkan saja. kali dia stress, ato habis minum-minum selepas kantor, katanya. tetapi bila tingkah lakunya semakin menjadi-jadi, segera telp ke 110, patroli yang berada di jalan akan segera mendatangi lokasi Anda, kata polisi berusaha menenangkan saya. lalu telepon saya tutup.
hm.....saya tidak sabaran lagi, mengingat sipemabuk malah semakin menjadi-jadi. walau tidak menggedor-gedor pintu, tetapi berkali-kali dia sempoyongan ke arah jendela. istri semakin ketakutan. akhirnya saya langsung mengambil tindakan dengan menghubungi polisi patroli 110.
saya kembali menceritakan gambaran apa yang sedang saya alami. polisi segera merespon dengan cepat. baik, sekarang beritahu alamat anda. dalam beebrapa menit patroli akan segera datang.
hanya dalam waktu 5 menit, terlihat lampu senter menyala menyoroti sipemabuk. Polisi datang. saya mendekat ke jendela, mendengarkan percakapan mereka.
Polisi : konban wa. dou shimashitaka ?
sipemabuk : (dengan masih sempoyongan)...... tidak menjawab.
Polisi : dou shimashita ka ?
Sipemabuk : (berusaha menjawab).... tapi tidak satu katapun yang keluar dari mulutnya.
Polisi : osumai wa doshira desu ka ? karena berkali-kali ditanya dan tidak menjawab, polisi kembali mengajukan pertanyaan.
anata wa nihonjin desu ka ? sipemabuk juga tidak menjawab. polisi meneruskan pertanyaan :
kuni wa dochira desu ka ? chuugoku desu ka ? indonesia desu ka ?
kali ini Sipemabuk menjawab
kankoku desu. watashi wa.... watashi no ie wa.....
ternyata dia orang Korea dan tidak bisa berbahasa Jepang.
sejurus kemudian, Polisi melihat ada yang aneh dari diri sipemabuk. ternyata mukanya penuh dengan darah.....
Polisi : anata wa doushimashita ka. kenka wo shimashita ka ? naguriai wo shimashita ka ?
Tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya dijawab : watashi wa.... watashi no ie wa.... saja oleh sipemabuk.
mendengar dialog tersebut, saya juga baru tersadar, ternyata dilantai beranda banyak darah. bahkan sampai ke jendela kaca.
beberapa lama interogasi, dan melihat kondisi sipemabuk, kahirnya polisi memutuskan untuk memanggil anbulance. dan berniat mengirim sipemabuk ke RS. tetapi saat itulah ada suara memanggil-manggil. ternyata itu adalah suara istri dari sipemabuk. ternyata rumahnya di lantai dua satu rumah dari rumah yang saya tempati.
akhirnya, menjelang keberangkatan saya, polisi sudah berhasil mengatasi sipemabuk, dan sudah mendatangkan anbulance. selanjutnya Polisi mengahmpiri saya, dan menceritakan bahwa suami-istri tidak bisa bahasa Jepang. saya bingung katanya. tetapi mengingat kondisi sipemabuk yang berlumuran darah, saya pikir harus dikirim ke RS aja, katanya.
saya meninggalkan Polisi yang masih mengurusi sipemabuk. dan tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuannya.
disepanjang perjalanan, saya terus mengucapkan rasa syukur. dan memuji reaksi cepat yang diambil oleh Polisi, meskipun yang memberikan laporan adalah orang asing. tentu saja, no money alias free, okane kakarimasen.
Inilah Jepang, sangat mengutamakan rasa aman bagi rakyatnya.
pagi harinya, Satpam mendatangi rumah saya, dan mengucapkan permintaan maaf atas kejadian tadi malam, sekaligus mengucapkan terima kasih dan memberikan pujian atas langkah cepat yang saya ambil dengan menghubungi polisi 110. satpam menjelaskan bahwa mereka siaga 24 jam, tetapi tidak di luar,melainkan di dalam ruangan....
Namun, saya tidak diberitahu, apa yang sebenarnya terjadi. mungkin itu bukan bagian tugas Satpam....
Terima kasih Pak Polisi, salut atas pengabdian Anda. Andai Polisi Indonesia juga seperti ini........ Baca selengkapnya Boku no Kokoro: October 2010
....(dengan terkantuk-kantuk), suara Babi ?, Beruang ? masak sih ma...., kita kan bukan di Hutan, lagian area rumah kita kan dilalui banyak orang, mana mungkin ada Babi ato beruang ?.... sambil melanjutkan tidur yang tertunda.
(beberapa detik kemudian)....
Pa, pa2, dengerin itu, kayak suara orang meludah...(dengan ekspresi penuh takut).... seketika rasa kantuk mulai hilang. dan teringat beberapa kali saya sering mengabaikan peringatan istri dan berakibat fatal. dan mendengarkan dengan seksama suara aneh di beranda belakang rumah. dan dari balik gorden kamar, samar-samar terlihat bayangan manusia. kali ini saya bangkit dari tidur, dan melihat jam menunjukkan pukul 12.15. (sudah pagi)
...hmmm ada yang cari gara-gara nih... saya intip dari jarak dekat dan mengamati siapa gerangan yang berniat usil tengah malam begini.
dan saya melihat sosok pria umur 50-an, terhuyung-huyung, sempoyongan. saya berfikir, orang mabuk.... tapi kenapa beranda rumah saya yang jadi sasaran...? dan gedebuk........ suara pria itu terjatuh ke lantai. sambail meringis dia berusaha bangkit sambil meraba-raba kepalanya yang mungkin terbentur semen.
itulah gambaran singkat sebuah kejadian kecil yang saya alami tadi malam (15 Oktober 2010) di Tohoku University`s House. selanjutnya saya dan berfikir bagaimana mengatasi sipemabuk ini. lagi pula saya harus buru-buru, mengingat jam 1.30 saya harus berangkat mengerjakan tugas harian. saya berfikir, sipemabuk hanya sendirian. seandainya dia nekat masuk rumah dengan merusak jendela, saya masih sanggup mengatasinya. tapi ini bukan Indonesia. tidak bisa gegabah. saya harus ekstra hati-hati. saya harus cari satpam. tapi istri ketakutan, dan saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian. apalagi Ghaniy sedang tidur pulas. saya juga tidak mungkin ajak Istri, karena Ghaniy akan sendirian dan akan lebih berbahaya bila sipemabuk benar2 nekat.
setelah mengamati beberapa saat, sipemabuk benar2 dalam keadaan fly, dan tidak memiliki senjata. akhirnya saya berhasil menyakinkan istri bahwa untuk sementara saya panggil satpam, rumah akan aman.
saya keliling komplek perumahan, melintasi berberapa gedung. tapi tidak menemukan satpam. belakangan saya tahu kalau satpam berada dalam ruangannya, dan bila ada keperluan mendadak, harus call melalui call center, atau tekan tombol interphone yang ada di lobi sebuah gedung di mana satpam berkantor.
akhirnya saya kembali pulang sambil memikirkan upaya lain. waktu semakin sedikit. saya menyalakan laptop dan buka internet untuk mencari nomor telp KOUBAN (pos polisi) terdekat. berhasil...
saya langsung menghubungi. saya sampaikan keluhan saya, dan pak Polisi menanggapi dengan seksama. tetapi berhubung patroli sedang tidak ditempat, ditambah lagi ada kasus terdahulu yang harus ditangani, Polisi menyarankan kepada saya agar untuk beberapa saat mengamati dulu gerakan sipemabuk. bila tidak mengganggu secara langsung, biarkan saja. kali dia stress, ato habis minum-minum selepas kantor, katanya. tetapi bila tingkah lakunya semakin menjadi-jadi, segera telp ke 110, patroli yang berada di jalan akan segera mendatangi lokasi Anda, kata polisi berusaha menenangkan saya. lalu telepon saya tutup.
hm.....saya tidak sabaran lagi, mengingat sipemabuk malah semakin menjadi-jadi. walau tidak menggedor-gedor pintu, tetapi berkali-kali dia sempoyongan ke arah jendela. istri semakin ketakutan. akhirnya saya langsung mengambil tindakan dengan menghubungi polisi patroli 110.
saya kembali menceritakan gambaran apa yang sedang saya alami. polisi segera merespon dengan cepat. baik, sekarang beritahu alamat anda. dalam beebrapa menit patroli akan segera datang.
hanya dalam waktu 5 menit, terlihat lampu senter menyala menyoroti sipemabuk. Polisi datang. saya mendekat ke jendela, mendengarkan percakapan mereka.
Polisi : konban wa. dou shimashitaka ?
sipemabuk : (dengan masih sempoyongan)...... tidak menjawab.
Polisi : dou shimashita ka ?
Sipemabuk : (berusaha menjawab).... tapi tidak satu katapun yang keluar dari mulutnya.
Polisi : osumai wa doshira desu ka ? karena berkali-kali ditanya dan tidak menjawab, polisi kembali mengajukan pertanyaan.
anata wa nihonjin desu ka ? sipemabuk juga tidak menjawab. polisi meneruskan pertanyaan :
kuni wa dochira desu ka ? chuugoku desu ka ? indonesia desu ka ?
kali ini Sipemabuk menjawab
kankoku desu. watashi wa.... watashi no ie wa.....
ternyata dia orang Korea dan tidak bisa berbahasa Jepang.
sejurus kemudian, Polisi melihat ada yang aneh dari diri sipemabuk. ternyata mukanya penuh dengan darah.....
Polisi : anata wa doushimashita ka. kenka wo shimashita ka ? naguriai wo shimashita ka ?
Tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya dijawab : watashi wa.... watashi no ie wa.... saja oleh sipemabuk.
mendengar dialog tersebut, saya juga baru tersadar, ternyata dilantai beranda banyak darah. bahkan sampai ke jendela kaca.
beberapa lama interogasi, dan melihat kondisi sipemabuk, kahirnya polisi memutuskan untuk memanggil anbulance. dan berniat mengirim sipemabuk ke RS. tetapi saat itulah ada suara memanggil-manggil. ternyata itu adalah suara istri dari sipemabuk. ternyata rumahnya di lantai dua satu rumah dari rumah yang saya tempati.
akhirnya, menjelang keberangkatan saya, polisi sudah berhasil mengatasi sipemabuk, dan sudah mendatangkan anbulance. selanjutnya Polisi mengahmpiri saya, dan menceritakan bahwa suami-istri tidak bisa bahasa Jepang. saya bingung katanya. tetapi mengingat kondisi sipemabuk yang berlumuran darah, saya pikir harus dikirim ke RS aja, katanya.
saya meninggalkan Polisi yang masih mengurusi sipemabuk. dan tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuannya.
disepanjang perjalanan, saya terus mengucapkan rasa syukur. dan memuji reaksi cepat yang diambil oleh Polisi, meskipun yang memberikan laporan adalah orang asing. tentu saja, no money alias free, okane kakarimasen.
Inilah Jepang, sangat mengutamakan rasa aman bagi rakyatnya.
pagi harinya, Satpam mendatangi rumah saya, dan mengucapkan permintaan maaf atas kejadian tadi malam, sekaligus mengucapkan terima kasih dan memberikan pujian atas langkah cepat yang saya ambil dengan menghubungi polisi 110. satpam menjelaskan bahwa mereka siaga 24 jam, tetapi tidak di luar,melainkan di dalam ruangan....
Namun, saya tidak diberitahu, apa yang sebenarnya terjadi. mungkin itu bukan bagian tugas Satpam....
Terima kasih Pak Polisi, salut atas pengabdian Anda. Andai Polisi Indonesia juga seperti ini........ Baca selengkapnya Boku no Kokoro: October 2010
Subscribe to:
Comments (Atom)